( aku dan ketiadaan, buat apa aku terus mempertanyakan dengan setulus telanjangku kepada kebanyakan manusia yang sejatinya telah lupa akan "diri" )
( Diri yang hakikatnya sudah tak merdeka, kecuali satu
dan menjadi satu-satunya yang akan terus tegak tertanam pada diriku )
( jengkel, tangis, marah, muak, senang, tertawa adalah sampah ekspresi jiwa )
( tapi jika semua harus kubuang apa aku ini manusia )
( Engkaulah Pangeran yang akan menyisir irisan hati ini )
( kumohonkan agar aku kuat
dan mampu memilah milahnya menjadi energi
yang mampu kuhadirkan dalam tangan, kaki, helai nafas lakuku )
( kupun bermimpi bahwa apa yang aku lakukan adalah semua terdapat akhiran Mu )
Rabu, 27 Juli 2011
titik Awal
ruang hampa
diam dan terbata
menanti di ujung mata
gurat-gurat senja.
entah mengapa
hati selalu terdera
sapa dan romantika tongkat musa
menghujam tanpa
diam dan terbata
menanti di ujung mata
gurat-gurat senja.
entah mengapa
hati selalu terdera
sapa dan romantika tongkat musa
menghujam tanpa
14
Tuhanku
kapan jiwaku bisa tangguh seperti kebisuan-Mu,
hingga mau nagis atau ketawa, mau bersedih atau
gembira, hanyalah jika aku menghendakinya.
kapan jiwaku bisa tangguh seperti kebisuan-Mu,
hingga mau nagis atau ketawa, mau bersedih atau
gembira, hanyalah jika aku menghendakinya.
Fase Perjalanan......
dulu kita selalu bertengkar perihal ngaji kita yang berbeda panjang pendeknya
seiring waktu yang terus dan selalu membisu
seakan akan kita tertawa melihatnya.
entah apa yang ditertawakan
tapi jika ditarik kesimpulan, ku tertawakan polos wajah kita
seiring berjalannya waktu yang menipu
seolah-olah kita tertatih-tatih
tetapi tetap saja badan kita tegap
sawang sinawang menjadi roda
keterbukaan hati dengan sendirinya akan membawa kita pada sebuah posisi akal yang tak menyangka
tetapi ternyata itupun belum sampai pada dasar cinta kita
hayo mau sampai mana ?
seiring waktu yang terus dan selalu membisu
seakan akan kita tertawa melihatnya.
entah apa yang ditertawakan
tapi jika ditarik kesimpulan, ku tertawakan polos wajah kita
seiring berjalannya waktu yang menipu
seolah-olah kita tertatih-tatih
tetapi tetap saja badan kita tegap
sawang sinawang menjadi roda
keterbukaan hati dengan sendirinya akan membawa kita pada sebuah posisi akal yang tak menyangka
tetapi ternyata itupun belum sampai pada dasar cinta kita
hayo mau sampai mana ?
Setitik Tanda
Engkau yang memangku kebenaran dan utusanmu yang agung karena pancaranMu dan hamba mencoba memberi tanda....meski masih sebatas titik.... semoga cahayaMu mampu kutangkap dalam pendaran yang bergelombang selalu... hingga menjadikan setitik nilai kesadaran......amin.
Langganan:
Postingan (Atom)