Rabu, 14 September 2011

01 September 1997 ( Utin Rahmah Indah Pratiwi )

Dalam sebuah obrolan dan gumaman dibawah pohon jambu depan rumah.
Dek Indah menginjak usia 14 rupanya, Tak terasa.
Sedikit memberi pesan, jalan-jalan dan hadiah ala kadarnya... ntraktir makan dimanapun dan nonton film (harpot & Tendangan dari Langit). Maaf yo, ndak bisa ngasi hadiah lain dihari lebaran yang mestinya engka bersama ibumu.... Yah, 4 waktu kita lalui lebaran tanpa wujud ibumu... dan tawamu seperti biasa dalam gemercik dedaunan bertumbukan disela telepon bersama ibumu. lewat suara ....... berbagi cinta...
Waktu itu usiaku belum seberapa, tapi usul Rahmah Indah keluar dari mulutku, dan pratiwi adalah nama tambahan dari ibumu untuk sebuah ingin : menjadi pilot wanita perkasa.... 
Ayo, Raih.....

harapku, hanya senyum dihatimu saja, cukup rahmah indah itu.he  :)

Setitik tanda

Sampangan-SimpangLima-ujung pemuda
Motor tak begitu melaju, tetapi alam fikir tak sejalan dengan itu. Brakkkk ! dalam pusaran 5 detik bodi motor beradu dengan jalan itu.... Terpelanting pengendaranya, jatuh dan berguling guling.
Alhamdulillah banget. Lukanya memang sedikit menganga, ada banyak titiknya.... tetapi luka yang sedari tadi terbawa dalam dada mendadak retak, mulai ambrol. Sama halnya saat setelahnya, tidak lunglai, kuberdiri tegap, tenang dan senyum (Sttt...itu rahasia).
Caramu memang indah Tuhan....elok, cantik sekali, sungguh...trimakasih dan maaf


Lebaran....

Lebaran kali ini, penuh dengan rahasia
Lebaran yang harusnya menjadi kemenangan
Lebaran yang sejatinya merupakan energi awal
Lebaran kali ini, tak banyak bicara

Jalan itu masih sama....


Ibuku Nan Alit

Aku Bersaksi,
Diderai tawa mengudara
Rindu bertahun tak bertatap muka
Engkau terlalu elit bagiku

Aku Bersaksi,
Tiap waktu engkau berkeringat
Bahkan oleh peluh dan air mata
Engkau terlalu elit bagiku

Aku Bersaksi,
Terlalu jauh abdiku
Mesti tak pernah kutahu
Raut wajah memimik lugu
Kau simpan disela tawa haru
Tertawa yang harusnya satir
Terasa begitu elit dengan kesombonganmu
Angkuh untuk tetap tertawa didalam ruang sederhana
Dari situ, mutiara memancar cahaya
lalu kita tertawa bersama, hahaha

Aku Bersaksi,
Begitu  murah engkau
Hingga sering kita terbahak, lupa
hanya baju yang masih ada dan tersisa

Aku Bersaksi,
Darma tak begitu nyata
Menyusup direlung jiwa
Meski sakit tak pernah kau bicara
Engkau terlalu elit bagiku

Aku bersaksi,
Digelombang gelisah tanpa tatap mata
Disela deru nafas tak begitu berirama
Dibimbang dirimu memenuhi senyum anakmu
Engkau terlalu elit bagiku

Aku Bersaksi,
Saat engkau belai rambutku
Disimpuh anyam tentram tidurku
Tak ragu, kau genggam takutku
Engkau serap, kau lumat, tak berlalu

Aku Bersaksi
Teramat iri anakmu
Mampukahku memurni seperti namamu
Sri Murni.....

Engkau teramat kaya
bahkan dibalik rumah kontrak tak bernama
Hingga tak ada sela
Menaruh rasa dan cinta dihati mereka
Mereka yang terkadang mengeluh, mengiba
Seisi rumah kita jadi tak bernama pula, hahaha
Engkau terlalu elit bagiku
Memang selalu begitu

Aku Bersaksi,
Demi Tuhan Yang Maha Sempurna
Potongan rahmat tellah tuntas tak bersisa
Darinya untuk kami yang belum jadi nyata
Salam rindu, untukmu kanjeng nabi
Syafaat terlimpah beserta senyum umatmu
Darinya telah ku peroleh secukup-cukupnya ilmu.

salam rindu.....

Nenek, ( Aku ) Cucumu itu...

2 Hari yang ajaib
Tergambar dalam mata dan tawa
Hening malam dihampar gelombang
Tercerahkan olehmu, Nek

Jang, kau sebut namaku
Mendekatku dalam rasa, seorang bocah
Bait- bait Qur'an penuh sayang
Tak terlafadz, namun bersikap

Jang, kau sebut namaku
Dek Tia yang baru lancar berjalan
Merangkulmu, erat, tak lepas
Bahkan julut coklatku tak begitu melekat

Asep, bocah lain diantara kita
Duduk termanggu menatap biru 
Dobonsolo masih bersandar di Belinyu
tak lama, mengantarmu ke dermaga haru

Malam itu, serperti dulu ulahku
Melantun Tuhan dibalik jerit nan panjang
Dek Tia, Bikin geger seluruh penumpang
Bergetar gigih di seru gelombang menghantam
Terlantun Yunus, bukan rahman, apalagi maryam
Bibirmu fasih memantra, yunus yang menentramkan
Sefasih kesabaranmu di berjam-jam air matanya
Tiap waktu, menjelang subuh, selalu begitu 
Kagum bergurat haru, malam seperti sembahyang

Dalam satu nuansa, mata kita saling bertatap
Berlomba memberi senyum terindah, engkau menang
Dalam sebuah lirih debur gelombang tertaut
Sebuah dongeng, mengisi ruang hati kita

Dari rahim wanita muda
Datang dengan berlumur nanah
terombang ambing bimbang 
memintamu melepas anugrah semestanya
Ruang dan waktu hanya menjelma nafsu

Dengan tangis menderas
Seperti kotak mengarus sungai, bayi musa
Tak engkau biarkan episode kembali berlalu
Kau rengkuh jiwa wanita itu

Lirih engkau berbisik, ada Tuhan dirahimmu
Meski berulang, berkali kau mencoba
Hingga teraba, remuk redam tulang tulang itu
tak sempurna, tak berharga

Engkau menangis, engkau tangisi
Lantang dalam nafas tersenggal isak
"Nak, apapun yang terjadi dengan isi perutmu
Biarlah itu yang memangku jika engkau malu
Bahkan tak ku minta susu dan mainan setelah itu
Cukup engkau seperti itu, aku titip ia dirahimmu"

Ajaib, Engkau memang ajaib Tuhan
dek Tia utuh, Dek Tia Patuh
Ajaib, Engkau memang ajaib Tuhan
Nenek punya cucu, Nenek punya mantu

Cium bibirmu dikeningku, memintaku singgah
Kugapai tangan lembutmu, dalam patuh hamba
Di ujung priok, mengantarkanmu ke rumah
Menghias saung-saungku yang tertinggal disana.


Nek, Sedang Apa Kau di Sana, Kangen.......
"Rindu Bisik Hatiku".

Berbagi Desir

 Selasa (12/8) sore. -Senang buanget-, mungkin itu perasaan pertamaku setelah sekian waktu tak menyapa anak-anak dalam suatu tempat  yang terlihat gembira tak terkira, meski nyatanya akulah yang sangat berbahagia dengan pertemuan itu. Lantunan sholawat melantun merdu dibibir yang menyeru keagungan dan keindahan disaat yang sama Didin yang sedari tadi memandu secara tidak resmi sesekali lirak-lirik menoleh jalan. (Hehehe)

Al- Jannah, atau surga yang nyata tergambar jelas didepan mata, ku curi pandang senyum adek kecil yang sesekali mengeser letak krudung mereka yang berlomba dengan gerai rambutnya. Tapi wajah polos mereka selalu menjadi domain utama dari bermacam sketsa-sketsa yang lalu lalang. Yah, betul-betul surga.

Acara berlangsung dengan khidmat, sedikit berbagi cerita dari om Budi Maryono tentang perjalanan masa lalu untuk menyemangati “anak-anak hayat” tentang  memakna hidup sederhana yang jg terlukis “serius nan asih” dari sorot  matanya. Ndalang dan guyon ala didin melengkapi seluruh energy Ilahiah yang sedari acara, menentramkan, membuatku tak habis untuk tersenyum kecil. (terlintas kapan bisa kami mengulang kembali).
Semoga selalu dalam hati yang lapang  "orang tua" dr tiap adek-adekku, Om bud dan keluarga, Didin Keluarga dan Lingkaran makluk yang  tetumbuh di tempat surga itu.

Adek -ku- bercermin

Hmm, Buka puasa kemarin dan ramadlon yang rahasia tahun ini, mengingatkanku pada keasyikan beberapa tahun lalu. Bersama murid-murid yang lucu, gemesin dan ngangenin di TPQ Nurul Fikri perumahan Bukit Beringin Lestari, Ngalian itu.

Dek Rida, dek Nazal dan sekitar 50 anak lainnya selalu setia menghiasi mushola menjelang berbuka. Selain mengaji tentu mereka menunggu magrib untuk membawa takjil yang tak seberapa. Ya, beberapa potong makanan itu sangat berwarna bagi mereka dan pulang dengan senyum merona.

Di tiap bulan puasa, Anak- anak kelas A, selalu kebagian nderes Qur’an dan kulihat sangat antusias sampai berebut membacanya sampai beberapa kali khatam diakhir puasa. Yang kecil kebagian bermain games yang dibuat oleh kami. Mulai menemukan jawaban dipotongan kecil yang berserak sampai jalan-jalan naik turun bukit secukupnya di antara kebun kacang dan jagung. Meski kulihat mereka capek, senyum gembira itu menjadi candu.

Ketersemangatan itu menjadikan aku bersama kang Falah dan pak Rosyidin selalu merasa gembira tak terhingga. Usaha mendirikan tempat belajar akhirnya terwadahi meski ditengah lingkungan orang tua yang selalu “sibuk” memilih lembaga les yang terbaik bagi anak mereka. Memakna kitab kuning menanti mereka dideras informasi dan tumbuh kembang berfikir mereka setelah selesai dikelas A.

Hampir 4 tahun aku mengajar mereka, bercermin diri, berbagai cerita mengalir dan hati selalu menderas kekaguman. Dari harus belajar menemukan metode menghentikan tangis sampai dipaksa menjadi kepala sekolah oleh yayasan…ha….
Tq buat pak Mudis, pak Feri, pak Ros yang percaya ada beribu rahasia dikepala anak-anak mereka. Dan untuk temen mengajar lainnya, Toha dan Hasan.

Sahaja Cinta

menawan reguh hati yang tertinggal
rona wajah nan ayu membimbang
adanya satu agukkan kejujuran
wahai engkau

entah siapa yang memulai
kita saling mencuri pandang
tatapan kosong dalam harpa dawai dan tiupan
semua akan kembali dalam bias senyum rindu

adinda, kau yang menjadi permaisuri dalam kabut malam
jiwamu teriak rindukan padang ilalang panjang
kau rangkul aku dan genggam ulu hatiku
tak terasa sepasang mata membuai ketulusan

nilai duka, derita dan ketidak mampuan
kau lumat dengan terbitnya subuh
engkau rangkul aku
oh betapa bahagia hatiku

Utin rahma indah pratiwi
engkau mampu
jangan lupa saling menyapa,
kan kukirim doa kesejukkan untukmu.

Ndang lulus MTs, mangke dolanan meleh.......

Menilai itu ....

Berhakkah aku menilai
Dimana letak kadar jika boleh
Kalau tidak, apa cukup Ia.

Ibukku

Kagum aku terhadapMu,
Kuat beribu peluh !
Rindu aku berhadapMu
Rumah teduh, sungguh !

Setitik jalan itu....

Kudengar sayup didinding kamarku, temen-temen kos lagi ngobrol tentang susahnya biaya pendidikan. sepanjang perjalanan diskusi itu kudapati peristiwa yang membuat senyumku kembali mengembang. si dika tampak serius dalam tiap jengkal argumen yang sedang berlangsung seperti perang dunia ke-3. yah, dapat kumaklumi ia selalu mengerutkan dahi, apalagi latar belakang orangtuanya sebagai petani. Sehingga saat- saat tertentu kulihat ia seperti bimbang tak menentu.  Dari titik masa depannya baik selama kuliah sampai mencari kerja. hemm. 
Sejenak fikirku melayang pada beberapa peristiwa yang kualami belakangan ini. aneh, mungkin itu yang menjadi wakilku dalam konggres kata-kata. sejenak ku coba kembali menjelajah dunia rasa yang sederhana antar hubungan manusia.  Sudah 5 tahun lebih aku tidak pulang ke rumah keterasinganku yakni pulau Bintan atau lebih familier disebut Tanjung Pinang dan hampir seperempat abad umurku kuhabiskan di kota semarang..Yah mulai dari tk sampai kuliah semua berlangsung dikota ini.


Dinamika Yang Asyik
Yup…kembali lagi pada hubungan antar manusia…selama ku menghirup udara yang semakin terasa sesak. Dimensi perasaan, akal pikir sampai pada titik temu dengan kompleksitas yang sangat luar biasa. Mulai dari drama seorang anak yang “harus’ menempuh jalan kaki berkilo-kilo meter di tiap sekolahnya. Seorang nenek misterius yang merawat bayi seorang diri dan ajaibnya si adek selalu meminta dibacakan surat Yunus sebagai pereda tangisnya. Sampai temenku anak pejabat yang begitu merengek sedikit maka bermunculan pinta-pinta seperti awan bertebaran cerah. hahahaha 
Yah, keragamanan proses hidup yang asyik dari masa kemasa. Dalam seminggu ini entah ada angin apa ku berniat untuk tidak menyentuh nasi yang ku bayangkan sebagai symbol orang kenyang atau setidaknya cukup kenyang. Bagiku mungkin selalu ada hal yang unik didalamnya seperti beberapa kali tempo dulu aku melakukan hal yang serupa. 
Nah betul, seperti sudah melantun semestinya, lagu –lagu memberi nada sentuhan yang berbeda-beda. Mulai datang silih berganti dan begitu cepat pergi. Kali ini aku hanya bisa tersenyum saja mensikapinya. Mungkin sedikit bingung, gemes, kagum, trenyuh, seneng, sedih dengan proses berjalannya.
Sudah lama aku berkeinginan untuk silaturahmi kepada tiap orang yang dulu menjadi bagian dari perjalan waktuku. Kemarin, ku susun rencana untuk berkunjung kepada tiap manusia dalam perjalanan waktuku. Mulai dari Cirebon sampai dengan keinginan untuk silaturahmi ke Brunui Darussalam. tapi intinya silaturahmi kepada siapapun yang dulu pernah melintas dalam memori otakku. Dari menyapa sahabat-sababat ku nan jauh sampai dengan hanya duduk diam dalam pusara keheningan makam kakek- moyangku..

Surat Teruntukmu

engkau milikNya

banyak terkata-kata
dan engkau diam saja
beribu jiwa menaruh engkau dalam sampah hatinya
dan engkau diam saja
semakin diam, sunyi
perjalanan cinta.
engkau merubah wajah dalam tiap hela
menjadi jalan dan tapak-tapak pecinta
kuasa dan ketidak tundukkan
ini nyata dan menjadi drama
engkau memberontakkah ???
seberanikah engkau kepada Tuanmu !!!

siapakah engkau, aktor apa yang sedang kau mainkan ?


03-06-09 : 09.00

Kematian

mendasar dalam kematian
ketentuan dan kehormatan
seorang hamba mencoba mencinta

Bukan Menyerah

makna sembahyang
Diujung kening ketidak mengertian
balasan celaka kematian
syukur dan ketakutan
bukan untuk mati
melainkan untuk nilai kematian itu sendiri

ketika mati tak menjadi sebuah ujung jawaban
nilai-nilai semakin sirna
dan justru sangat menakutkan
bercermin tak ada kata hamba

Tuhan,
akulah dungu peranan

Hmm....

saling pandang
saling gumam
semua tertawa
dalam jiwa

getaran yang kan kembali
menjadi bagian keteduhan
yang disana terdapat kidung cinta
bias cahaya biru nan haru

didalam telaga
sepasang bayang-bayang
sinar purmana seperti kekasih
meneduhkan malam nan panjang


malam Mu
dalam arungan samudra
menjadi tinta,
menjadi pena.

Moment : Hadiah Untukmu Mas

gerak henti yang tak kedip
blidz cahaya getarkan seketika
estetika tubuh tak bernilai
terlalu mengada-ada
terlalu klise bagi pecandu cinta
amarah jiwa nan menari sufi
menjadi cetakan yang tak tergambar
bahkan oleh ribuan jiwa -jiwa pengganti
hanya satu yang berarti tak terhingga
dan kembali pada satu-Mu
sisi sisi selain wajah yang nampak
terlihat sorot mata yang tajam pandangi
jikapun dibuat sebuah ukuran
lagi lagi tak mampu
pun lagi
lalu mata jalang coba untuk merasuk dalam sukma-sukma
potret tua yang makin samar
menjawab gusar yang semakin tak menentu gusarnya
sehingga pun di ujung perjalanan sana
tak kan pernah berhenti pada tapak-tapak

Klise

ada dan tiadaku
ikatan cinta yang sambung putus
mirip seorang kawula yang kasmaran
saling pandang dalam kesempurnaan
akupun yang selalu menaikkan pandangku
tentu bisa memberi sedikit gambaran
aku dan siapa kamu
aku tak akan bisa bawakan jiwa ku
terlalu tertutup dan tak mampu membakar bisu
yang ada sebuah gerak yang tak tentu titik tentu
dan tentu selingan mimpi yang ah aku pun sendiri bisu
terlalu beda kan
apa patutku menentukan tiap gaya
yang tak lain itu tendangan jiwa pada ulu syahduku
senyumku ini berarti aku kalah
tapi dasar anak kecil pongah
berlari jauhi dan berlari
tak tahu diri
tidur yang tak tidurku
terang yang tak terangku
mimpiku bidadari tersenyum sinis
dan tentu memandangiku
 
20.07.08

Menikmati Secukupnya.

singa buas tak makan anaknya
dan kehidupan tak apa adanya
mengajarkan santun tanpa warna
wahana-wahana yang ada hanya untuk ketawa
anak kijang pun terus berlari
menunggu teduh dari pencekraman diri
mengelus perut ibunya minta asi
didalam mimpinya, kapan alam kan menyayangi

dan aku dalam kotak yang tak cukup besar
didalamnya gumaman-gumaman kalut kasar
menghantam dan tendang fikirku yang tak kekar
kabut kehidupan menjauh dan samar

kerinduan dan ketakutan
antara halusnya hati terpadu setan
ada bisik terpendam menyeru lautan
mengikuti arus keharibaan
Tuhan, aku sunguh tak mampu untuk tak takjub
segala alam yang bermakna
Air-Mu
Tanah-Mu
Api-Mu
Udara-Mu

hentikanku pada bias
cahayaMu

Ya Allah...

19.07.08

Gangsing

semakin berpusar kencang
semakin tenang

semakin melemah
menandakan terombang-ambingnya pemikiran.

jadi..................
gangsingkan aja dengan kencang
biar pusing sekalian

mencari sisiran hati yang lupa terbawa

Engkau....

dan bila kau tak mampu
maka pergilah wahai perempuanku
bukan hanya cinta saja yang kau jaga

Karena semestinya
kata kata cerminkan jiwa
....
jangan coba engkau katakan lagi
janji-janji yang kadang kau ingkari
sekarang saatnya engkau  berhenti
melukai relung hati
....
coba kita renungkan arti kesetiaan

Secuil Asa

" Yang saya tangisi bukan apa-apa, yang saya tangisi adalah milik terakhir kami yaitu persaudaraan, tulusnya hati kemanusiaan, sebatas itupun masih harus direnggut...... "....EAN

Tersenyum Itu...

apa yang bisa (harusnya ) aku katakan ditiap waktuku, astagfirullah dan alhamdulillah,
sedikit membaiatkan diri bahwa aku selalu ingin semua terjadi didepan mata meski resiko kematian lebih terasa.
semua akan terasa nyata tetapi, aku malu Gustiku
berjalan menunduk dalam bisu

lalang dan Tiupan Daun

suaranya tak terdengar
dipematangan surga-surga
lambaian selendang ketulusan
Engkau persembahkan jiwa-jiwa

dalam sebuah waktu
pojokan hati tak terbawa
seruling ilalang menjadi kering
karena,
sebuah hati dalam durhaka
menjerit dari sisi ruang berbeda
wajah dahaga tampak dibelkang muka
sayup terdengar anak itu mengiba

duh Gusti
dalam sebuah lantunan keagungan semesta
kumohonkan Kau hadir tuk membawa
hati-hati kami yang mengembara
pertimbangkanlah semua yang ada
tentang makna yang berbeda
tuk dapat menghidupkan lentera