Aku Bersaksi,
Diderai tawa mengudara
Rindu bertahun tak bertatap muka
Engkau terlalu elit bagiku
Aku Bersaksi,
Tiap waktu engkau berkeringat
Bahkan oleh peluh dan air mata
Engkau terlalu elit bagiku
Aku Bersaksi,
Terlalu jauh abdiku
Mesti tak pernah kutahu
Raut wajah memimik lugu
Kau simpan disela tawa haru
Tertawa yang harusnya satir
Terasa begitu elit dengan kesombonganmu
Angkuh untuk tetap tertawa didalam ruang sederhana
Dari situ, mutiara memancar cahaya
lalu kita tertawa bersama, hahaha
Aku Bersaksi,
Begitu murah engkau
Hingga sering kita terbahak, lupa
hanya baju yang masih ada dan tersisa
Aku Bersaksi,
Darma tak begitu nyata
Menyusup direlung jiwa
Meski sakit tak pernah kau bicara
Engkau terlalu elit bagiku
Aku bersaksi,
Digelombang gelisah tanpa tatap mata
Disela deru nafas tak begitu berirama
Dibimbang dirimu memenuhi senyum anakmu
Engkau terlalu elit bagiku
Aku Bersaksi,
Saat engkau belai rambutku
Disimpuh anyam tentram tidurku
Tak ragu, kau genggam takutku
Engkau serap, kau lumat, tak berlalu
Aku Bersaksi
Teramat iri anakmu
Mampukahku memurni seperti namamu
Sri Murni.....
Engkau teramat kaya
bahkan dibalik rumah kontrak tak bernama
Hingga tak ada sela
Menaruh rasa dan cinta dihati mereka
Mereka yang terkadang mengeluh, mengiba
Seisi rumah kita jadi tak bernama pula, hahaha
Engkau terlalu elit bagiku
Memang selalu begitu
Aku Bersaksi,
Demi Tuhan Yang Maha Sempurna
Potongan rahmat tellah tuntas tak bersisa
Darinya untuk kami yang belum jadi nyata
Salam rindu, untukmu kanjeng nabi
Syafaat terlimpah beserta senyum umatmu
Darinya telah ku peroleh secukup-cukupnya ilmu.
salam rindu.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar