Rabu, 14 September 2011

Berbagi Desir

 Selasa (12/8) sore. -Senang buanget-, mungkin itu perasaan pertamaku setelah sekian waktu tak menyapa anak-anak dalam suatu tempat  yang terlihat gembira tak terkira, meski nyatanya akulah yang sangat berbahagia dengan pertemuan itu. Lantunan sholawat melantun merdu dibibir yang menyeru keagungan dan keindahan disaat yang sama Didin yang sedari tadi memandu secara tidak resmi sesekali lirak-lirik menoleh jalan. (Hehehe)

Al- Jannah, atau surga yang nyata tergambar jelas didepan mata, ku curi pandang senyum adek kecil yang sesekali mengeser letak krudung mereka yang berlomba dengan gerai rambutnya. Tapi wajah polos mereka selalu menjadi domain utama dari bermacam sketsa-sketsa yang lalu lalang. Yah, betul-betul surga.

Acara berlangsung dengan khidmat, sedikit berbagi cerita dari om Budi Maryono tentang perjalanan masa lalu untuk menyemangati “anak-anak hayat” tentang  memakna hidup sederhana yang jg terlukis “serius nan asih” dari sorot  matanya. Ndalang dan guyon ala didin melengkapi seluruh energy Ilahiah yang sedari acara, menentramkan, membuatku tak habis untuk tersenyum kecil. (terlintas kapan bisa kami mengulang kembali).
Semoga selalu dalam hati yang lapang  "orang tua" dr tiap adek-adekku, Om bud dan keluarga, Didin Keluarga dan Lingkaran makluk yang  tetumbuh di tempat surga itu.

Adek -ku- bercermin

Hmm, Buka puasa kemarin dan ramadlon yang rahasia tahun ini, mengingatkanku pada keasyikan beberapa tahun lalu. Bersama murid-murid yang lucu, gemesin dan ngangenin di TPQ Nurul Fikri perumahan Bukit Beringin Lestari, Ngalian itu.

Dek Rida, dek Nazal dan sekitar 50 anak lainnya selalu setia menghiasi mushola menjelang berbuka. Selain mengaji tentu mereka menunggu magrib untuk membawa takjil yang tak seberapa. Ya, beberapa potong makanan itu sangat berwarna bagi mereka dan pulang dengan senyum merona.

Di tiap bulan puasa, Anak- anak kelas A, selalu kebagian nderes Qur’an dan kulihat sangat antusias sampai berebut membacanya sampai beberapa kali khatam diakhir puasa. Yang kecil kebagian bermain games yang dibuat oleh kami. Mulai menemukan jawaban dipotongan kecil yang berserak sampai jalan-jalan naik turun bukit secukupnya di antara kebun kacang dan jagung. Meski kulihat mereka capek, senyum gembira itu menjadi candu.

Ketersemangatan itu menjadikan aku bersama kang Falah dan pak Rosyidin selalu merasa gembira tak terhingga. Usaha mendirikan tempat belajar akhirnya terwadahi meski ditengah lingkungan orang tua yang selalu “sibuk” memilih lembaga les yang terbaik bagi anak mereka. Memakna kitab kuning menanti mereka dideras informasi dan tumbuh kembang berfikir mereka setelah selesai dikelas A.

Hampir 4 tahun aku mengajar mereka, bercermin diri, berbagai cerita mengalir dan hati selalu menderas kekaguman. Dari harus belajar menemukan metode menghentikan tangis sampai dipaksa menjadi kepala sekolah oleh yayasan…ha….
Tq buat pak Mudis, pak Feri, pak Ros yang percaya ada beribu rahasia dikepala anak-anak mereka. Dan untuk temen mengajar lainnya, Toha dan Hasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar