Selasa (12/8) sore. -Senang buanget-,
mungkin itu perasaan pertamaku setelah sekian waktu tak menyapa
anak-anak dalam suatu tempat yang terlihat gembira tak terkira, meski
nyatanya akulah yang sangat berbahagia dengan pertemuan itu. Lantunan
sholawat melantun merdu dibibir yang menyeru keagungan dan keindahan
disaat yang sama Didin yang sedari tadi memandu secara tidak resmi
sesekali lirak-lirik menoleh jalan. (Hehehe)
Al-
Jannah, atau surga yang nyata tergambar jelas didepan mata, ku curi
pandang senyum adek kecil yang sesekali mengeser letak krudung mereka
yang berlomba dengan gerai rambutnya. Tapi wajah polos mereka selalu
menjadi domain utama dari bermacam sketsa-sketsa yang lalu lalang. Yah,
betul-betul surga.
Acara
berlangsung dengan khidmat, sedikit berbagi cerita dari om Budi Maryono
tentang perjalanan masa lalu untuk menyemangati “anak-anak hayat”
tentang memakna hidup sederhana yang jg terlukis “serius nan asih” dari
sorot matanya. Ndalang dan guyon ala didin melengkapi seluruh energy
Ilahiah yang sedari acara, menentramkan, membuatku tak habis untuk
tersenyum kecil. (terlintas kapan bisa kami mengulang kembali).
Semoga
selalu dalam hati yang lapang "orang tua" dr tiap adek-adekku, Om bud
dan keluarga, Didin Keluarga dan Lingkaran makluk yang tetumbuh di
tempat surga itu.
Adek -ku- bercermin
Hmm,
Buka puasa kemarin dan ramadlon yang rahasia tahun ini, mengingatkanku
pada keasyikan beberapa tahun lalu. Bersama murid-murid yang lucu,
gemesin dan ngangenin di TPQ Nurul Fikri perumahan Bukit Beringin
Lestari, Ngalian itu.
Dek
Rida, dek Nazal dan sekitar 50 anak lainnya selalu setia menghiasi
mushola menjelang berbuka. Selain mengaji tentu mereka menunggu magrib
untuk membawa takjil yang tak seberapa. Ya, beberapa potong makanan itu
sangat berwarna bagi mereka dan pulang dengan senyum merona.
Di
tiap bulan puasa, Anak- anak kelas A, selalu kebagian nderes Qur’an dan
kulihat sangat antusias sampai berebut membacanya sampai beberapa kali
khatam diakhir puasa. Yang kecil kebagian bermain games yang dibuat oleh
kami. Mulai menemukan jawaban dipotongan kecil yang berserak sampai
jalan-jalan naik turun bukit secukupnya di antara kebun kacang dan
jagung. Meski kulihat mereka capek, senyum gembira itu menjadi candu.
Ketersemangatan
itu menjadikan aku bersama kang Falah dan pak Rosyidin selalu merasa
gembira tak terhingga. Usaha mendirikan tempat belajar akhirnya
terwadahi meski ditengah lingkungan orang tua yang selalu “sibuk”
memilih lembaga les yang terbaik bagi anak mereka. Memakna kitab kuning
menanti mereka dideras informasi dan tumbuh kembang berfikir mereka
setelah selesai dikelas A.
Hampir
4 tahun aku mengajar mereka, bercermin diri, berbagai cerita mengalir
dan hati selalu menderas kekaguman. Dari harus belajar menemukan metode
menghentikan tangis sampai dipaksa menjadi kepala sekolah oleh
yayasan…ha….
Tq
buat pak Mudis, pak Feri, pak Ros yang percaya ada beribu rahasia
dikepala anak-anak mereka. Dan untuk temen mengajar lainnya, Toha dan
Hasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar