Rabu, 14 September 2011

Nenek, ( Aku ) Cucumu itu...

2 Hari yang ajaib
Tergambar dalam mata dan tawa
Hening malam dihampar gelombang
Tercerahkan olehmu, Nek

Jang, kau sebut namaku
Mendekatku dalam rasa, seorang bocah
Bait- bait Qur'an penuh sayang
Tak terlafadz, namun bersikap

Jang, kau sebut namaku
Dek Tia yang baru lancar berjalan
Merangkulmu, erat, tak lepas
Bahkan julut coklatku tak begitu melekat

Asep, bocah lain diantara kita
Duduk termanggu menatap biru 
Dobonsolo masih bersandar di Belinyu
tak lama, mengantarmu ke dermaga haru

Malam itu, serperti dulu ulahku
Melantun Tuhan dibalik jerit nan panjang
Dek Tia, Bikin geger seluruh penumpang
Bergetar gigih di seru gelombang menghantam
Terlantun Yunus, bukan rahman, apalagi maryam
Bibirmu fasih memantra, yunus yang menentramkan
Sefasih kesabaranmu di berjam-jam air matanya
Tiap waktu, menjelang subuh, selalu begitu 
Kagum bergurat haru, malam seperti sembahyang

Dalam satu nuansa, mata kita saling bertatap
Berlomba memberi senyum terindah, engkau menang
Dalam sebuah lirih debur gelombang tertaut
Sebuah dongeng, mengisi ruang hati kita

Dari rahim wanita muda
Datang dengan berlumur nanah
terombang ambing bimbang 
memintamu melepas anugrah semestanya
Ruang dan waktu hanya menjelma nafsu

Dengan tangis menderas
Seperti kotak mengarus sungai, bayi musa
Tak engkau biarkan episode kembali berlalu
Kau rengkuh jiwa wanita itu

Lirih engkau berbisik, ada Tuhan dirahimmu
Meski berulang, berkali kau mencoba
Hingga teraba, remuk redam tulang tulang itu
tak sempurna, tak berharga

Engkau menangis, engkau tangisi
Lantang dalam nafas tersenggal isak
"Nak, apapun yang terjadi dengan isi perutmu
Biarlah itu yang memangku jika engkau malu
Bahkan tak ku minta susu dan mainan setelah itu
Cukup engkau seperti itu, aku titip ia dirahimmu"

Ajaib, Engkau memang ajaib Tuhan
dek Tia utuh, Dek Tia Patuh
Ajaib, Engkau memang ajaib Tuhan
Nenek punya cucu, Nenek punya mantu

Cium bibirmu dikeningku, memintaku singgah
Kugapai tangan lembutmu, dalam patuh hamba
Di ujung priok, mengantarkanmu ke rumah
Menghias saung-saungku yang tertinggal disana.


Nek, Sedang Apa Kau di Sana, Kangen.......
"Rindu Bisik Hatiku".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar