Kudengar
sayup didinding kamarku, temen-temen kos lagi ngobrol tentang susahnya
biaya pendidikan. sepanjang perjalanan diskusi itu kudapati peristiwa
yang membuat senyumku kembali mengembang. si dika tampak serius dalam
tiap jengkal argumen yang sedang berlangsung seperti perang dunia ke-3.
yah, dapat kumaklumi ia selalu mengerutkan dahi, apalagi latar belakang
orangtuanya sebagai petani. Sehingga saat- saat tertentu kulihat ia
seperti bimbang tak menentu. Dari titik masa depannya baik selama
kuliah sampai mencari kerja. hemm.
Sejenak
fikirku melayang pada beberapa peristiwa yang kualami belakangan ini.
aneh, mungkin itu yang menjadi wakilku dalam konggres kata-kata. sejenak
ku coba kembali menjelajah dunia rasa yang sederhana antar hubungan
manusia. Sudah 5 tahun lebih aku tidak pulang ke rumah keterasinganku
yakni pulau Bintan atau lebih familier disebut Tanjung Pinang dan hampir
seperempat abad umurku kuhabiskan di kota semarang..Yah mulai dari tk
sampai kuliah semua berlangsung dikota ini.
Dinamika Yang Asyik
Yup…kembali
lagi pada hubungan antar manusia…selama ku menghirup udara yang semakin
terasa sesak. Dimensi perasaan, akal pikir sampai pada titik temu
dengan kompleksitas yang sangat luar biasa. Mulai dari drama seorang
anak yang “harus’ menempuh jalan kaki berkilo-kilo meter di tiap
sekolahnya. Seorang nenek misterius yang merawat bayi seorang diri dan
ajaibnya si adek selalu meminta dibacakan surat Yunus sebagai pereda
tangisnya. Sampai temenku anak pejabat yang begitu merengek sedikit maka
bermunculan pinta-pinta seperti awan bertebaran cerah. hahahaha
Yah,
keragamanan proses hidup yang asyik dari masa kemasa. Dalam seminggu
ini entah ada angin apa ku berniat untuk tidak menyentuh nasi yang ku
bayangkan sebagai symbol orang kenyang atau setidaknya cukup kenyang.
Bagiku mungkin selalu ada hal yang unik didalamnya seperti beberapa kali
tempo dulu aku melakukan hal yang serupa.
Nah
betul, seperti sudah melantun semestinya, lagu –lagu memberi nada
sentuhan yang berbeda-beda. Mulai datang silih berganti dan begitu cepat
pergi. Kali ini aku hanya bisa tersenyum saja mensikapinya. Mungkin
sedikit bingung, gemes, kagum, trenyuh, seneng, sedih dengan proses
berjalannya.
Sudah lama aku berkeinginan
untuk silaturahmi kepada tiap orang yang dulu menjadi bagian dari
perjalan waktuku. Kemarin, ku susun rencana untuk berkunjung kepada tiap
manusia dalam perjalanan waktuku. Mulai dari Cirebon sampai dengan
keinginan untuk silaturahmi ke Brunui Darussalam. tapi intinya
silaturahmi kepada siapapun yang dulu pernah melintas dalam memori
otakku. Dari menyapa sahabat-sababat ku nan jauh sampai dengan hanya
duduk diam dalam pusara keheningan makam kakek- moyangku..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar