Rabu, 14 September 2011

Setitik jalan itu....

Kudengar sayup didinding kamarku, temen-temen kos lagi ngobrol tentang susahnya biaya pendidikan. sepanjang perjalanan diskusi itu kudapati peristiwa yang membuat senyumku kembali mengembang. si dika tampak serius dalam tiap jengkal argumen yang sedang berlangsung seperti perang dunia ke-3. yah, dapat kumaklumi ia selalu mengerutkan dahi, apalagi latar belakang orangtuanya sebagai petani. Sehingga saat- saat tertentu kulihat ia seperti bimbang tak menentu.  Dari titik masa depannya baik selama kuliah sampai mencari kerja. hemm. 
Sejenak fikirku melayang pada beberapa peristiwa yang kualami belakangan ini. aneh, mungkin itu yang menjadi wakilku dalam konggres kata-kata. sejenak ku coba kembali menjelajah dunia rasa yang sederhana antar hubungan manusia.  Sudah 5 tahun lebih aku tidak pulang ke rumah keterasinganku yakni pulau Bintan atau lebih familier disebut Tanjung Pinang dan hampir seperempat abad umurku kuhabiskan di kota semarang..Yah mulai dari tk sampai kuliah semua berlangsung dikota ini.


Dinamika Yang Asyik
Yup…kembali lagi pada hubungan antar manusia…selama ku menghirup udara yang semakin terasa sesak. Dimensi perasaan, akal pikir sampai pada titik temu dengan kompleksitas yang sangat luar biasa. Mulai dari drama seorang anak yang “harus’ menempuh jalan kaki berkilo-kilo meter di tiap sekolahnya. Seorang nenek misterius yang merawat bayi seorang diri dan ajaibnya si adek selalu meminta dibacakan surat Yunus sebagai pereda tangisnya. Sampai temenku anak pejabat yang begitu merengek sedikit maka bermunculan pinta-pinta seperti awan bertebaran cerah. hahahaha 
Yah, keragamanan proses hidup yang asyik dari masa kemasa. Dalam seminggu ini entah ada angin apa ku berniat untuk tidak menyentuh nasi yang ku bayangkan sebagai symbol orang kenyang atau setidaknya cukup kenyang. Bagiku mungkin selalu ada hal yang unik didalamnya seperti beberapa kali tempo dulu aku melakukan hal yang serupa. 
Nah betul, seperti sudah melantun semestinya, lagu –lagu memberi nada sentuhan yang berbeda-beda. Mulai datang silih berganti dan begitu cepat pergi. Kali ini aku hanya bisa tersenyum saja mensikapinya. Mungkin sedikit bingung, gemes, kagum, trenyuh, seneng, sedih dengan proses berjalannya.
Sudah lama aku berkeinginan untuk silaturahmi kepada tiap orang yang dulu menjadi bagian dari perjalan waktuku. Kemarin, ku susun rencana untuk berkunjung kepada tiap manusia dalam perjalanan waktuku. Mulai dari Cirebon sampai dengan keinginan untuk silaturahmi ke Brunui Darussalam. tapi intinya silaturahmi kepada siapapun yang dulu pernah melintas dalam memori otakku. Dari menyapa sahabat-sababat ku nan jauh sampai dengan hanya duduk diam dalam pusara keheningan makam kakek- moyangku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar