Sebagian tampak
Sebagian membayang
Sebagian mewujud
Sebagian menyamar
Sebagian membawa
Sebagian tertinggal
.........
Memandang ilmu
Menyerupa bayang
Menguak di kedalaman
Menemu ruang-ruang
Berglandir,
Ada sudut paling ujung,
Disana tak sekedar kubutuhkan
(Ngepaske srengenge)
Kamis, 27 Oktober 2011
Selasa, 11 Oktober 2011
Senyumlah....
Ingin Ku Menyayangimu Secara Sederhana.....
sesederhana melihatmu tersenyum dipagi hari....
sesederhana melihatmu tersenyum dipagi hari....
Jumat, 07 Oktober 2011
Terus Berjalan
Akan lelah, sejengkal tapak merambat. Entah seberapa jauh. Yang penting jangan berhenti.. Kemungkinan itu banyak, sama halnya dengan luas dalam sempitnya ketahanan. Masih ada. Tidak hanya mungkin, tapi pasti karena engkau telah berjanji sendiri. Meski tak terucap pinta. Merupa adanya disungging bibirmu , tanda cintamu membumi....
Jeda
Langit Membelai, aku lagi kemayu. Masih diujung gelap, melesat meninggalkan ujung mata. Langit meninggalkan sepijar bintang, bumipun membintang, menyisakan sahara bergemintang. Mata-mata bertebaran, aku tak sanggup membedah mata-mata. Termangu, manyun. Mata jiwa diambang cinta, mata cinta menusuk rusukku. Dalam, mendalam. Tersentuh, kesentuh, aaah.... Gemes geram melirih geliat genitku. 05/10. 22.43
Selasa, 04 Oktober 2011
Dzikir #4
Perempuan setengah baya itu terlihat anggun dalam mataku. Liuk tubuhnya sedang menyemai serupa main bilyar dengan memegang garpu besar ketentraman. Lapang kekuningan panen raya, slide kain jarik dibahunya sesekali digunakan mengusap keringat dan membatasi cahaya yang kadung terang. Dikepalanya bersemayam lingkar kain memadat menyunggi ribuan tangkai padi terikat, sesekali. Ku lihat ia begitu menikmati peluh dengan telanjang dada, ditanah yang memadat serupa menyusu, merengkuh anak-anak alam yang tercecer diujung ruang tak berpintu.
Rabu, 14 September 2011
01 September 1997 ( Utin Rahmah Indah Pratiwi )
Dalam sebuah obrolan dan gumaman dibawah pohon jambu depan rumah.
Dek Indah menginjak usia 14 rupanya, Tak terasa.
Sedikit memberi pesan, jalan-jalan dan hadiah ala kadarnya... ntraktir makan dimanapun dan nonton film (harpot & Tendangan dari Langit). Maaf yo, ndak bisa ngasi hadiah lain dihari lebaran yang mestinya engka bersama ibumu.... Yah, 4 waktu kita lalui lebaran tanpa wujud ibumu... dan tawamu seperti biasa dalam gemercik dedaunan bertumbukan disela telepon bersama ibumu. lewat suara ....... berbagi cinta...
Waktu itu usiaku belum seberapa, tapi usul Rahmah Indah keluar dari mulutku, dan pratiwi adalah nama tambahan dari ibumu untuk sebuah ingin : menjadi pilot wanita perkasa....
Ayo, Raih.....
harapku, hanya senyum dihatimu saja, cukup rahmah indah itu.he :)
Waktu itu usiaku belum seberapa, tapi usul Rahmah Indah keluar dari mulutku, dan pratiwi adalah nama tambahan dari ibumu untuk sebuah ingin : menjadi pilot wanita perkasa....
Ayo, Raih.....
Setitik tanda
Sampangan-SimpangLima-ujung pemuda
Motor tak begitu melaju, tetapi alam fikir tak sejalan dengan itu. Brakkkk ! dalam pusaran 5 detik bodi motor beradu dengan jalan itu.... Terpelanting pengendaranya, jatuh dan berguling guling.
Alhamdulillah banget. Lukanya memang sedikit menganga, ada banyak titiknya.... tetapi luka yang sedari tadi terbawa dalam dada mendadak retak, mulai ambrol. Sama halnya saat setelahnya, tidak lunglai, kuberdiri tegap, tenang dan senyum (Sttt...itu rahasia).
Caramu memang indah Tuhan....elok, cantik sekali, sungguh...trimakasih dan maaf
Lebaran....
Lebaran kali ini, penuh dengan rahasia
Lebaran yang harusnya menjadi kemenangan
Lebaran yang sejatinya merupakan energi awal
Lebaran kali ini, tak banyak bicara
Jalan itu masih sama....
Lebaran yang harusnya menjadi kemenangan
Lebaran yang sejatinya merupakan energi awal
Lebaran kali ini, tak banyak bicara
Jalan itu masih sama....
Ibuku Nan Alit
Aku Bersaksi,
Diderai tawa mengudara
Rindu bertahun tak bertatap muka
Engkau terlalu elit bagiku
Aku Bersaksi,
Tiap waktu engkau berkeringat
Bahkan oleh peluh dan air mata
Engkau terlalu elit bagiku
Aku Bersaksi,
Terlalu jauh abdiku
Mesti tak pernah kutahu
Raut wajah memimik lugu
Kau simpan disela tawa haru
Tertawa yang harusnya satir
Terasa begitu elit dengan kesombonganmu
Angkuh untuk tetap tertawa didalam ruang sederhana
Dari situ, mutiara memancar cahaya
lalu kita tertawa bersama, hahaha
Aku Bersaksi,
Begitu murah engkau
Hingga sering kita terbahak, lupa
hanya baju yang masih ada dan tersisa
Aku Bersaksi,
Darma tak begitu nyata
Menyusup direlung jiwa
Meski sakit tak pernah kau bicara
Engkau terlalu elit bagiku
Aku bersaksi,
Digelombang gelisah tanpa tatap mata
Disela deru nafas tak begitu berirama
Dibimbang dirimu memenuhi senyum anakmu
Engkau terlalu elit bagiku
Aku Bersaksi,
Saat engkau belai rambutku
Disimpuh anyam tentram tidurku
Tak ragu, kau genggam takutku
Engkau serap, kau lumat, tak berlalu
Aku Bersaksi
Teramat iri anakmu
Mampukahku memurni seperti namamu
Sri Murni.....
Engkau teramat kaya
bahkan dibalik rumah kontrak tak bernama
Hingga tak ada sela
Menaruh rasa dan cinta dihati mereka
Mereka yang terkadang mengeluh, mengiba
Seisi rumah kita jadi tak bernama pula, hahaha
Engkau terlalu elit bagiku
Memang selalu begitu
Aku Bersaksi,
Demi Tuhan Yang Maha Sempurna
Potongan rahmat tellah tuntas tak bersisa
Darinya untuk kami yang belum jadi nyata
Salam rindu, untukmu kanjeng nabi
Syafaat terlimpah beserta senyum umatmu
Darinya telah ku peroleh secukup-cukupnya ilmu.
salam rindu.....
Nenek, ( Aku ) Cucumu itu...
2 Hari yang ajaib
Tergambar dalam mata dan tawa
Hening malam dihampar gelombang
Tercerahkan olehmu, Nek
Jang, kau sebut namaku
Mendekatku dalam rasa, seorang bocah
Bait- bait Qur'an penuh sayang
Tak terlafadz, namun bersikap
Jang, kau sebut namaku
Dek Tia yang baru lancar berjalan
Merangkulmu, erat, tak lepas
Bahkan julut coklatku tak begitu melekat
Asep, bocah lain diantara kita
Duduk termanggu menatap biru
Dobonsolo masih bersandar di Belinyu
tak lama, mengantarmu ke dermaga haru
Malam itu, serperti dulu ulahku
Melantun Tuhan dibalik jerit nan panjang
Dek Tia, Bikin geger seluruh penumpang
Bergetar gigih di seru gelombang menghantam
Terlantun Yunus, bukan rahman, apalagi maryam
Bibirmu fasih memantra, yunus yang menentramkan
Sefasih kesabaranmu di berjam-jam air matanya
Tiap waktu, menjelang subuh, selalu begitu
Kagum bergurat haru, malam seperti sembahyang
Dalam satu nuansa, mata kita saling bertatap
Berlomba memberi senyum terindah, engkau menang
Dalam sebuah lirih debur gelombang tertaut
Sebuah dongeng, mengisi ruang hati kita
Dari rahim wanita muda
Datang dengan berlumur nanah
terombang ambing bimbang
memintamu melepas anugrah semestanya
Ruang dan waktu hanya menjelma nafsu
Dengan tangis menderas
Seperti kotak mengarus sungai, bayi musa
Tak engkau biarkan episode kembali berlalu
Kau rengkuh jiwa wanita itu
Lirih engkau berbisik, ada Tuhan dirahimmu
Meski berulang, berkali kau mencoba
Hingga teraba, remuk redam tulang tulang itu
tak sempurna, tak berharga
Engkau menangis, engkau tangisi
Lantang dalam nafas tersenggal isak
"Nak, apapun yang terjadi dengan isi perutmu
Biarlah itu yang memangku jika engkau malu
Bahkan tak ku minta susu dan mainan setelah itu
Cukup engkau seperti itu, aku titip ia dirahimmu"
Ajaib, Engkau memang ajaib Tuhan
dek Tia utuh, Dek Tia Patuh
Ajaib, Engkau memang ajaib Tuhan
Nenek punya cucu, Nenek punya mantu
Cium bibirmu dikeningku, memintaku singgah
Kugapai tangan lembutmu, dalam patuh hamba
Di ujung priok, mengantarkanmu ke rumah
Menghias saung-saungku yang tertinggal disana.
Nek, Sedang Apa Kau di Sana, Kangen.......
"Rindu Bisik Hatiku".
Berbagi Desir
Selasa (12/8) sore. -Senang buanget-,
mungkin itu perasaan pertamaku setelah sekian waktu tak menyapa
anak-anak dalam suatu tempat yang terlihat gembira tak terkira, meski
nyatanya akulah yang sangat berbahagia dengan pertemuan itu. Lantunan
sholawat melantun merdu dibibir yang menyeru keagungan dan keindahan
disaat yang sama Didin yang sedari tadi memandu secara tidak resmi
sesekali lirak-lirik menoleh jalan. (Hehehe)
Al-
Jannah, atau surga yang nyata tergambar jelas didepan mata, ku curi
pandang senyum adek kecil yang sesekali mengeser letak krudung mereka
yang berlomba dengan gerai rambutnya. Tapi wajah polos mereka selalu
menjadi domain utama dari bermacam sketsa-sketsa yang lalu lalang. Yah,
betul-betul surga.
Acara
berlangsung dengan khidmat, sedikit berbagi cerita dari om Budi Maryono
tentang perjalanan masa lalu untuk menyemangati “anak-anak hayat”
tentang memakna hidup sederhana yang jg terlukis “serius nan asih” dari
sorot matanya. Ndalang dan guyon ala didin melengkapi seluruh energy
Ilahiah yang sedari acara, menentramkan, membuatku tak habis untuk
tersenyum kecil. (terlintas kapan bisa kami mengulang kembali).
Semoga
selalu dalam hati yang lapang "orang tua" dr tiap adek-adekku, Om bud
dan keluarga, Didin Keluarga dan Lingkaran makluk yang tetumbuh di
tempat surga itu.
Adek -ku- bercermin
Hmm,
Buka puasa kemarin dan ramadlon yang rahasia tahun ini, mengingatkanku
pada keasyikan beberapa tahun lalu. Bersama murid-murid yang lucu,
gemesin dan ngangenin di TPQ Nurul Fikri perumahan Bukit Beringin
Lestari, Ngalian itu.
Dek
Rida, dek Nazal dan sekitar 50 anak lainnya selalu setia menghiasi
mushola menjelang berbuka. Selain mengaji tentu mereka menunggu magrib
untuk membawa takjil yang tak seberapa. Ya, beberapa potong makanan itu
sangat berwarna bagi mereka dan pulang dengan senyum merona.
Di
tiap bulan puasa, Anak- anak kelas A, selalu kebagian nderes Qur’an dan
kulihat sangat antusias sampai berebut membacanya sampai beberapa kali
khatam diakhir puasa. Yang kecil kebagian bermain games yang dibuat oleh
kami. Mulai menemukan jawaban dipotongan kecil yang berserak sampai
jalan-jalan naik turun bukit secukupnya di antara kebun kacang dan
jagung. Meski kulihat mereka capek, senyum gembira itu menjadi candu.
Ketersemangatan
itu menjadikan aku bersama kang Falah dan pak Rosyidin selalu merasa
gembira tak terhingga. Usaha mendirikan tempat belajar akhirnya
terwadahi meski ditengah lingkungan orang tua yang selalu “sibuk”
memilih lembaga les yang terbaik bagi anak mereka. Memakna kitab kuning
menanti mereka dideras informasi dan tumbuh kembang berfikir mereka
setelah selesai dikelas A.
Hampir
4 tahun aku mengajar mereka, bercermin diri, berbagai cerita mengalir
dan hati selalu menderas kekaguman. Dari harus belajar menemukan metode
menghentikan tangis sampai dipaksa menjadi kepala sekolah oleh
yayasan…ha….
Tq
buat pak Mudis, pak Feri, pak Ros yang percaya ada beribu rahasia
dikepala anak-anak mereka. Dan untuk temen mengajar lainnya, Toha dan
Hasan.
Sahaja Cinta
menawan reguh hati yang tertinggal
rona wajah nan ayu membimbang
adanya satu agukkan kejujuran
wahai engkau
entah siapa yang memulai
kita saling mencuri pandang
tatapan kosong dalam harpa dawai dan tiupan
semua akan kembali dalam bias senyum rindu
adinda, kau yang menjadi permaisuri dalam kabut malam
jiwamu teriak rindukan padang ilalang panjang
kau rangkul aku dan genggam ulu hatiku
tak terasa sepasang mata membuai ketulusan
nilai duka, derita dan ketidak mampuan
kau lumat dengan terbitnya subuh
engkau rangkul aku
oh betapa bahagia hatiku
Utin rahma indah pratiwi
engkau mampu
jangan lupa saling menyapa,
kan kukirim doa kesejukkan untukmu.
Ndang lulus MTs, mangke dolanan meleh.......
Setitik jalan itu....
Kudengar
sayup didinding kamarku, temen-temen kos lagi ngobrol tentang susahnya
biaya pendidikan. sepanjang perjalanan diskusi itu kudapati peristiwa
yang membuat senyumku kembali mengembang. si dika tampak serius dalam
tiap jengkal argumen yang sedang berlangsung seperti perang dunia ke-3.
yah, dapat kumaklumi ia selalu mengerutkan dahi, apalagi latar belakang
orangtuanya sebagai petani. Sehingga saat- saat tertentu kulihat ia
seperti bimbang tak menentu. Dari titik masa depannya baik selama
kuliah sampai mencari kerja. hemm.
Sejenak
fikirku melayang pada beberapa peristiwa yang kualami belakangan ini.
aneh, mungkin itu yang menjadi wakilku dalam konggres kata-kata. sejenak
ku coba kembali menjelajah dunia rasa yang sederhana antar hubungan
manusia. Sudah 5 tahun lebih aku tidak pulang ke rumah keterasinganku
yakni pulau Bintan atau lebih familier disebut Tanjung Pinang dan hampir
seperempat abad umurku kuhabiskan di kota semarang..Yah mulai dari tk
sampai kuliah semua berlangsung dikota ini.
Dinamika Yang Asyik
Yup…kembali
lagi pada hubungan antar manusia…selama ku menghirup udara yang semakin
terasa sesak. Dimensi perasaan, akal pikir sampai pada titik temu
dengan kompleksitas yang sangat luar biasa. Mulai dari drama seorang
anak yang “harus’ menempuh jalan kaki berkilo-kilo meter di tiap
sekolahnya. Seorang nenek misterius yang merawat bayi seorang diri dan
ajaibnya si adek selalu meminta dibacakan surat Yunus sebagai pereda
tangisnya. Sampai temenku anak pejabat yang begitu merengek sedikit maka
bermunculan pinta-pinta seperti awan bertebaran cerah. hahahaha
Yah,
keragamanan proses hidup yang asyik dari masa kemasa. Dalam seminggu
ini entah ada angin apa ku berniat untuk tidak menyentuh nasi yang ku
bayangkan sebagai symbol orang kenyang atau setidaknya cukup kenyang.
Bagiku mungkin selalu ada hal yang unik didalamnya seperti beberapa kali
tempo dulu aku melakukan hal yang serupa.
Nah
betul, seperti sudah melantun semestinya, lagu –lagu memberi nada
sentuhan yang berbeda-beda. Mulai datang silih berganti dan begitu cepat
pergi. Kali ini aku hanya bisa tersenyum saja mensikapinya. Mungkin
sedikit bingung, gemes, kagum, trenyuh, seneng, sedih dengan proses
berjalannya.
Sudah lama aku berkeinginan
untuk silaturahmi kepada tiap orang yang dulu menjadi bagian dari
perjalan waktuku. Kemarin, ku susun rencana untuk berkunjung kepada tiap
manusia dalam perjalanan waktuku. Mulai dari Cirebon sampai dengan
keinginan untuk silaturahmi ke Brunui Darussalam. tapi intinya
silaturahmi kepada siapapun yang dulu pernah melintas dalam memori
otakku. Dari menyapa sahabat-sababat ku nan jauh sampai dengan hanya
duduk diam dalam pusara keheningan makam kakek- moyangku..
Surat Teruntukmu
engkau milikNya
banyak terkata-kata
dan engkau diam saja
beribu jiwa menaruh engkau dalam sampah hatinya
dan engkau diam saja
semakin diam, sunyi
perjalanan cinta.
engkau merubah wajah dalam tiap hela
menjadi jalan dan tapak-tapak pecinta
kuasa dan ketidak tundukkan
ini nyata dan menjadi drama
engkau memberontakkah ???
seberanikah engkau kepada Tuanmu !!!
siapakah engkau, aktor apa yang sedang kau mainkan ?
03-06-09 : 09.00
banyak terkata-kata
dan engkau diam saja
beribu jiwa menaruh engkau dalam sampah hatinya
dan engkau diam saja
semakin diam, sunyi
perjalanan cinta.
engkau merubah wajah dalam tiap hela
menjadi jalan dan tapak-tapak pecinta
kuasa dan ketidak tundukkan
ini nyata dan menjadi drama
engkau memberontakkah ???
seberanikah engkau kepada Tuanmu !!!
siapakah engkau, aktor apa yang sedang kau mainkan ?
03-06-09 : 09.00
Bukan Menyerah
makna sembahyang
Diujung kening ketidak mengertian
balasan celaka kematian
syukur dan ketakutan
bukan untuk mati
melainkan untuk nilai kematian itu sendiri
ketika mati tak menjadi sebuah ujung jawaban
nilai-nilai semakin sirna
dan justru sangat menakutkan
bercermin tak ada kata hamba
Tuhan,
akulah dungu peranan
Diujung kening ketidak mengertian
balasan celaka kematian
syukur dan ketakutan
bukan untuk mati
melainkan untuk nilai kematian itu sendiri
ketika mati tak menjadi sebuah ujung jawaban
nilai-nilai semakin sirna
dan justru sangat menakutkan
bercermin tak ada kata hamba
Tuhan,
akulah dungu peranan
Hmm....
saling pandang
saling gumam
semua tertawa
dalam jiwa
getaran yang kan kembali
menjadi bagian keteduhan
yang disana terdapat kidung cinta
bias cahaya biru nan haru
didalam telaga
sepasang bayang-bayang
sinar purmana seperti kekasih
meneduhkan malam nan panjang
malam Mu
dalam arungan samudra
menjadi tinta,
menjadi pena.
saling gumam
semua tertawa
dalam jiwa
getaran yang kan kembali
menjadi bagian keteduhan
yang disana terdapat kidung cinta
bias cahaya biru nan haru
didalam telaga
sepasang bayang-bayang
sinar purmana seperti kekasih
meneduhkan malam nan panjang
malam Mu
dalam arungan samudra
menjadi tinta,
menjadi pena.
Moment : Hadiah Untukmu Mas
gerak henti yang tak kedip
blidz cahaya getarkan seketika
estetika tubuh tak bernilai
terlalu mengada-ada
terlalu klise bagi pecandu cinta
blidz cahaya getarkan seketika
estetika tubuh tak bernilai
terlalu mengada-ada
terlalu klise bagi pecandu cinta
amarah jiwa nan menari sufi
menjadi cetakan yang tak tergambar
bahkan oleh ribuan jiwa -jiwa pengganti
hanya satu yang berarti tak terhingga
dan kembali pada satu-Mu
menjadi cetakan yang tak tergambar
bahkan oleh ribuan jiwa -jiwa pengganti
hanya satu yang berarti tak terhingga
dan kembali pada satu-Mu
sisi sisi selain wajah yang nampak
terlihat sorot mata yang tajam pandangi
jikapun dibuat sebuah ukuran
lagi lagi tak mampu
pun lagi
terlihat sorot mata yang tajam pandangi
jikapun dibuat sebuah ukuran
lagi lagi tak mampu
pun lagi
lalu mata jalang coba untuk merasuk dalam sukma-sukma
potret tua yang makin samar
menjawab gusar yang semakin tak menentu gusarnya
sehingga pun di ujung perjalanan sana
tak kan pernah berhenti pada tapak-tapak
potret tua yang makin samar
menjawab gusar yang semakin tak menentu gusarnya
sehingga pun di ujung perjalanan sana
tak kan pernah berhenti pada tapak-tapak
Klise
ada dan tiadaku
ikatan cinta yang sambung putus
mirip seorang kawula yang kasmaran
saling pandang dalam kesempurnaan
ikatan cinta yang sambung putus
mirip seorang kawula yang kasmaran
saling pandang dalam kesempurnaan
akupun yang selalu menaikkan pandangku
tentu bisa memberi sedikit gambaran
aku dan siapa kamu
tentu bisa memberi sedikit gambaran
aku dan siapa kamu
aku tak akan bisa bawakan jiwa ku
terlalu tertutup dan tak mampu membakar bisu
yang ada sebuah gerak yang tak tentu titik tentu
dan tentu selingan mimpi yang ah aku pun sendiri bisu
terlalu beda kan
terlalu tertutup dan tak mampu membakar bisu
yang ada sebuah gerak yang tak tentu titik tentu
dan tentu selingan mimpi yang ah aku pun sendiri bisu
terlalu beda kan
apa patutku menentukan tiap gaya
yang tak lain itu tendangan jiwa pada ulu syahduku
senyumku ini berarti aku kalah
yang tak lain itu tendangan jiwa pada ulu syahduku
senyumku ini berarti aku kalah
tapi dasar anak kecil pongah
berlari jauhi dan berlari
tak tahu diri
berlari jauhi dan berlari
tak tahu diri
tidur yang tak tidurku
terang yang tak terangku
mimpiku bidadari tersenyum sinis
dan tentu memandangiku
terang yang tak terangku
mimpiku bidadari tersenyum sinis
dan tentu memandangiku
20.07.08
Menikmati Secukupnya.
singa buas tak makan anaknya
dan kehidupan tak apa adanya
mengajarkan santun tanpa warna
wahana-wahana yang ada hanya untuk ketawa
dan kehidupan tak apa adanya
mengajarkan santun tanpa warna
wahana-wahana yang ada hanya untuk ketawa
anak kijang pun terus berlari
menunggu teduh dari pencekraman diri
mengelus perut ibunya minta asi
didalam mimpinya, kapan alam kan menyayangi
dan aku dalam kotak yang tak cukup besar
didalamnya gumaman-gumaman kalut kasar
menghantam dan tendang fikirku yang tak kekar
kabut kehidupan menjauh dan samar
kerinduan dan ketakutan
antara halusnya hati terpadu setan
ada bisik terpendam menyeru lautan
mengikuti arus keharibaan
menunggu teduh dari pencekraman diri
mengelus perut ibunya minta asi
didalam mimpinya, kapan alam kan menyayangi
dan aku dalam kotak yang tak cukup besar
didalamnya gumaman-gumaman kalut kasar
menghantam dan tendang fikirku yang tak kekar
kabut kehidupan menjauh dan samar
kerinduan dan ketakutan
antara halusnya hati terpadu setan
ada bisik terpendam menyeru lautan
mengikuti arus keharibaan
Tuhan, aku sunguh tak mampu untuk tak takjub
segala alam yang bermakna
Air-Mu
Tanah-Mu
Api-Mu
Udara-Mu
segala alam yang bermakna
Air-Mu
Tanah-Mu
Api-Mu
Udara-Mu
cahayaMu
Ya Allah...
19.07.08
Gangsing
semakin berpusar kencang
semakin tenang
semakin melemah
menandakan terombang-ambingnya pemikiran.
jadi..................
gangsingkan aja dengan kencang
biar pusing sekalian
mencari sisiran hati yang lupa terbawa
semakin tenang
semakin melemah
menandakan terombang-ambingnya pemikiran.
jadi..................
gangsingkan aja dengan kencang
biar pusing sekalian
mencari sisiran hati yang lupa terbawa
Engkau....
dan bila kau tak mampu
maka pergilah wahai perempuanku
bukan hanya cinta saja yang kau jaga
Karena semestinya
kata kata cerminkan jiwa
....
jangan coba engkau katakan lagi
janji-janji yang kadang kau ingkari
sekarang saatnya engkau berhenti
melukai relung hati
....
coba kita renungkan arti kesetiaan
maka pergilah wahai perempuanku
bukan hanya cinta saja yang kau jaga
Karena semestinya
kata kata cerminkan jiwa
....
jangan coba engkau katakan lagi
janji-janji yang kadang kau ingkari
sekarang saatnya engkau berhenti
melukai relung hati
....
coba kita renungkan arti kesetiaan
Secuil Asa
"
Yang saya tangisi bukan apa-apa, yang saya tangisi adalah milik
terakhir kami yaitu persaudaraan, tulusnya hati kemanusiaan, sebatas
itupun masih harus direnggut...... "....EAN
Tersenyum Itu...
apa yang bisa (harusnya ) aku katakan ditiap waktuku, astagfirullah dan alhamdulillah,
sedikit membaiatkan diri bahwa aku selalu ingin semua terjadi didepan mata meski resiko kematian lebih terasa.
semua akan terasa nyata tetapi, aku malu Gustiku
berjalan menunduk dalam bisu
sedikit membaiatkan diri bahwa aku selalu ingin semua terjadi didepan mata meski resiko kematian lebih terasa.
semua akan terasa nyata tetapi, aku malu Gustiku
berjalan menunduk dalam bisu
lalang dan Tiupan Daun
suaranya tak terdengar
dipematangan surga-surga
lambaian selendang ketulusan
Engkau persembahkan jiwa-jiwa
dalam sebuah waktu
pojokan hati tak terbawa
seruling ilalang menjadi kering
karena,
sebuah hati dalam durhaka
menjerit dari sisi ruang berbeda
wajah dahaga tampak dibelkang muka
sayup terdengar anak itu mengiba
duh Gusti
dalam sebuah lantunan keagungan semesta
kumohonkan Kau hadir tuk membawa
hati-hati kami yang mengembara
pertimbangkanlah semua yang ada
tentang makna yang berbeda
tuk dapat menghidupkan lentera
dipematangan surga-surga
lambaian selendang ketulusan
Engkau persembahkan jiwa-jiwa
dalam sebuah waktu
pojokan hati tak terbawa
seruling ilalang menjadi kering
karena,
sebuah hati dalam durhaka
menjerit dari sisi ruang berbeda
wajah dahaga tampak dibelkang muka
sayup terdengar anak itu mengiba
duh Gusti
dalam sebuah lantunan keagungan semesta
kumohonkan Kau hadir tuk membawa
hati-hati kami yang mengembara
pertimbangkanlah semua yang ada
tentang makna yang berbeda
tuk dapat menghidupkan lentera
Selasa, 06 September 2011
Rabu, 27 Juli 2011
Yang Mendalam....
( aku dan ketiadaan, buat apa aku terus mempertanyakan dengan setulus telanjangku kepada kebanyakan manusia yang sejatinya telah lupa akan "diri" )
( Diri yang hakikatnya sudah tak merdeka, kecuali satu
dan menjadi satu-satunya yang akan terus tegak tertanam pada diriku )
( jengkel, tangis, marah, muak, senang, tertawa adalah sampah ekspresi jiwa )
( tapi jika semua harus kubuang apa aku ini manusia )
( Engkaulah Pangeran yang akan menyisir irisan hati ini )
( kumohonkan agar aku kuat
dan mampu memilah milahnya menjadi energi
yang mampu kuhadirkan dalam tangan, kaki, helai nafas lakuku )
( kupun bermimpi bahwa apa yang aku lakukan adalah semua terdapat akhiran Mu )
( Diri yang hakikatnya sudah tak merdeka, kecuali satu
dan menjadi satu-satunya yang akan terus tegak tertanam pada diriku )
( jengkel, tangis, marah, muak, senang, tertawa adalah sampah ekspresi jiwa )
( tapi jika semua harus kubuang apa aku ini manusia )
( Engkaulah Pangeran yang akan menyisir irisan hati ini )
( kumohonkan agar aku kuat
dan mampu memilah milahnya menjadi energi
yang mampu kuhadirkan dalam tangan, kaki, helai nafas lakuku )
( kupun bermimpi bahwa apa yang aku lakukan adalah semua terdapat akhiran Mu )
titik Awal
ruang hampa
diam dan terbata
menanti di ujung mata
gurat-gurat senja.
entah mengapa
hati selalu terdera
sapa dan romantika tongkat musa
menghujam tanpa
diam dan terbata
menanti di ujung mata
gurat-gurat senja.
entah mengapa
hati selalu terdera
sapa dan romantika tongkat musa
menghujam tanpa
14
Tuhanku
kapan jiwaku bisa tangguh seperti kebisuan-Mu,
hingga mau nagis atau ketawa, mau bersedih atau
gembira, hanyalah jika aku menghendakinya.
kapan jiwaku bisa tangguh seperti kebisuan-Mu,
hingga mau nagis atau ketawa, mau bersedih atau
gembira, hanyalah jika aku menghendakinya.
Fase Perjalanan......
dulu kita selalu bertengkar perihal ngaji kita yang berbeda panjang pendeknya
seiring waktu yang terus dan selalu membisu
seakan akan kita tertawa melihatnya.
entah apa yang ditertawakan
tapi jika ditarik kesimpulan, ku tertawakan polos wajah kita
seiring berjalannya waktu yang menipu
seolah-olah kita tertatih-tatih
tetapi tetap saja badan kita tegap
sawang sinawang menjadi roda
keterbukaan hati dengan sendirinya akan membawa kita pada sebuah posisi akal yang tak menyangka
tetapi ternyata itupun belum sampai pada dasar cinta kita
hayo mau sampai mana ?
seiring waktu yang terus dan selalu membisu
seakan akan kita tertawa melihatnya.
entah apa yang ditertawakan
tapi jika ditarik kesimpulan, ku tertawakan polos wajah kita
seiring berjalannya waktu yang menipu
seolah-olah kita tertatih-tatih
tetapi tetap saja badan kita tegap
sawang sinawang menjadi roda
keterbukaan hati dengan sendirinya akan membawa kita pada sebuah posisi akal yang tak menyangka
tetapi ternyata itupun belum sampai pada dasar cinta kita
hayo mau sampai mana ?
Setitik Tanda
Engkau yang memangku kebenaran dan utusanmu yang agung karena pancaranMu dan hamba mencoba memberi tanda....meski masih sebatas titik.... semoga cahayaMu mampu kutangkap dalam pendaran yang bergelombang selalu... hingga menjadikan setitik nilai kesadaran......amin.
Langganan:
Postingan (Atom)